Rabu, 19 Oktober 2011

Belajar Main Musik Jaga Fungsi Otak

Mempelajari alat musik di masa kecil bukan saja menjadikan seorang anak mahirbermain instrumen, tapi juga berpotensi menjaga fungsi otak berpuluh-puluh tahun kemudian.
Kendati tidak lagi memainkan instrumen musik itu saat dewasa, namun pelajaran musikyang telah diterima akan membantu sang anak menjaga ketajaman otak di masa tua. Ilmuwan menemukan bahwa pensiunan yang pernah mempelajari piano, flute, klarinetatau alat musik lain memiliki hasiltes intelejensi lebih baik ketimbang mereka yang tidak pernah belajar.
"Aktivitas musikal dalam kehidupan seseorang bisa menjadi latihan kognitif yang membuat otak anda lebih sehat dan lebih mampu mengakomodasi tantangan di masa tua," jelas Dr Brenda Hanna-Pladdy dari University of Kansas Medical Center sebagaimana dikutip Telegraph , Senin (25/4/2011).
"Karena mempelajari alat musik harus diikuti dengan latihan selama bertahun-tahun, aktivitas itu bisa menciptakan koneksi alternatif yang bisa mengkompensasi penurunan tingkat kognitif di saat kita beranjak tua," lanjutnya.
Studi yang dipublikasikan oleh American Psycological Association mengamati 70 partisipan berusia 60 hingga 83tahun dengan kondisi kesehatanbaik. Mereka kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan pengalaman musikal mereka.
Hasilnya, mereka yang memiliki pengalaman musik mengerjakantes kognitif lebih baik ketimbangmereka yang belum pernah mempelajari instrumen ataupun membaca not balok.

Punya Kenangan Menyakitkan? Hapus Saja!

Sejumlah ilmuwan dari University of California mengklaim telah menemukan cara untuk menghapus, atau setidaknya mengurangi, kenangan menyakitkan seseorang dari otak.
Tim peneliti yang dipimpin oleh David Glanzman kabarnya telahmenemukan hubungan antara sebuah protein yang disebut PKM dengan kemampuan manusia mengingat kembali kejadian-kejadian tidak menyenangkan. Meski begitu, dia berkeras, hal ini belum bisa terwujud dalam waktu dekat.
"Di masa mendatang, saya rasakami bisa mengubah kenangan seseorang untuk mengurangi trauma dari otak," jelas Glanzman seperti dikutip Daily Mail , Selasa (3/5/2011).
"Tidak dalam waktu dekat, tapi saya pikir nantinya kami bisa masuk ke dalam otak seseorang, mengidentifikasi lokasi pengalaman traumatis untuk kemudian menguranginya,"imbuh Glanzman.
Glanzman, yang merupakan seorang ahli syaraf, beserta timnya disinyalir telah mengurangi ingatan jangka panjang pada sebuah siput lautyang dikenal sebagai Aplysia juga pada syaraf yang diletakkan di cawan patri. Mereka menemukan bahwa sensasi untuk ingatan jangka panjang siput laut bisa dihapus dengan menghalangi aktivitas PKM, yaitu protein yang dihubungkan dengan memori.
Tim peneliti berhasil menghapus ingatan jangka panjang pada siput laut maupun pada sirkuit di cawan patri. Mereka adalah kelompok ilmuwan pertama yangbisa menunjukkan bahwa ingatan jangka panjang bisa dihapus pada hubungan antara dua syaraf.
Hasil penemuan ini juga bisa membantu menyembuhkan pecandu obat bius, di mana memori memiliki peran penting, maupun penyakit Alzheimer serta penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan ingatan jangka panjang.

Populasi Dunia Mencapai 10,1 Miliar di 2100

Jumlah populasi dunia diperkirakan bakal mencapai 9,3 miliar pada 2050 dan 10,1 miliar pada 2100 mendatang. Demikian analisa ahli populasi PBB yang dilansir Straits Times , Rabu (4/5/2011).
Berdasarkan laporan PBB tentang tren dunia yang dirilis Selasa waktu setempat, populasi global disinyalir akan tumbuh menjadi 6,9 miliar pada 1 Juli nanti. Bahkan, 31 Oktober mendatang, angka itu akan kembali tumbuh menjadi 7 miliar.
Sebagian besar pertumbuhan populasi terjadi di negara-negara dengan tingkat kesuburan tertinggi, terutama diwilayah sub-Sahara Afrika.
Hania Zlotnik selaku Direktur Divisi Populasi PBB mengatakan bahwa analisa ini tergantung pada perkiraan tingkat kesuburan maupun beberapa faktor lain seperti kemajuan dunia kedokteran yang membuat seseorang bisa hidup lebih lama atau semakin banyakkeluarga yang memilih memiliki anak lebih sedikit.
"Dunia tidak runtuh dengan pertambahan begitu banyak orang. Tapi kebanyakan dari mereka berada di negara-negara paling miskin," papar Zlotnik.
"Jika mereka tidak mencapai tingkat kesuburan yang lebih rendah, kami memperkirakan mereka akan mendapat masalah serius," lanjutnya.
Direktur eksekutif UN Population Fund Dr Babatunde Osotimehin menambahkan, "Adanya 7 miliar populasi di dunia ini merupakan sebuah tantangan sekaligus peluang. Secara keseluruhan, orang-orang hidup lebih lama dan menjalani kehidupan lebih sehat serta memiliki keluarga lebih kecil."
"Tapi untuk memastikan kesejahteraan masyarakat saatini, begitu juga generasi yang akan datang, diperlukan pemikiran-pemikiran baru sertakerjasama dari seluruh pihak," tutup Osotimehin.

Tidur 7 Jam Jaga Otak Tetap Tajam

Jangan remehkan waktu tidur di malam hari. Berdasarkan studi dari ilmuwan di University College London, kebiasaan tidur selama 7 jam bisa membantu mempertahankan ketajaman otak di masa tua.
Meski begitu, bukan berarti anda bisa tidur sepuas hati. Pasalnya, waktu tidur yang terlalu lama bisa menambah usia otak hingga tujuh tahun. Akibat yang sama juga dirasakan jika anda memiliki waktu tidur terlalu pendek.
Ketua tim peneliti Dr Jane Ferrie menjelaskan penurunan fungsi otak ini sama seperti halnya seperti bertambah tua empat hingga empat tahun.
"Lamanya waktu tidur biasanya berkurang seiring pertambahan usia, demikian juga fungsi kognitif otak. Jadi kami ingin melihat apakah terdapat hubungan antara perubahan pola tidur ini," jelas Ferrie kepada Telegraph , Senin (9/5/2011).
Pada uji coba yang dilakukan Ferrie dan timnya, ditemukan bahwa orang dewasa dengan waktu tidur kurang dari enam jam dalam kurun lima tahun mengalami penurunan skor dalam tes logika dan kosakata. Mereka juga menemukan individu yang tidur lebih dari 8 jam sehari menunjukkan sinyal penurunan fungsi kognitif.
Ferrie dan timnya menemukan bahwa wanita yang tidur tujuh jam sehari memiliki skor tertinggipada tes kognitif, sebagaimana pria dengan waktu tidur 6 hingga 8 jam.
"Kami terkejut ketika menemukan orang-orang dengan durasi tidur lebih lama ternyata memiliki skor yang lebihrendah untuk fungsi kognitif, kecuali dalam hal ingatan," lanjutnya.
"Menurut kami, hal ini ada hubungannya dengan fragmentasi tidur. Artinya, meskipun seseorang tidur cukuplama, belum tentu tidur mereka 'berkualitas'. Kami menghitung perubahan tidur ini membuat fungsi kognitif otak berkurang, sama seperti seseorang yang bertambah tua empat hingga tujuh tahun," papar Ferrie lagi.
Peneliti menggunakan data dari survei jangka panjang terkait kesehatan publik, yang diketahuisebagai studi Whitehall II dan diisi oleh sekira 5.431 partisipan berusia 35 hingga 55 tahun. Mereka diminta untuk menyelesaikan enam tes kognitifyang mencakup uji logika, kosakata, kefasihan berbicara serta ingatan.

80% Orang Tua Cemas Anaknya Kecanduan Facebook

Sebuah penelitian terbaru dari Nominet Trust menemukan bahwa mayoritas orang tua takut anak mereka kecanduan situs jejaring sosial seperti Facebook.
Seperti yang dikutip dari CBR , Kamis (7/7/2011), penelitian tersebut juga menemukan bahwa satu dari 12 orang memiliki ketergantungan akan internet. Selain itu, penelitian tersebut juga menemukan bahwa kecanduan internet dapat menyebabkan depresi, kemarahan dan tensi tinggi, ketika mereka tidak memiliki akses internet.
Empat dari lima orang tua takut kalau anak mereka akan kecanduan Facebook, sementara satu dari tiga orang tua berpikir kalau Facebook 'mencuci otak' anak mereka.
Selain itu, rusaknya penglihatan mata juga terlihat pada anak-anak yang menggunakaninternet lebih dari tiga jam dalam satu hari.
"Tapi Nominet Trust percaya kalau internet juga menjadi sumber kebaikan. Kami juga mendanai proyek agar masyarakat bisa berinternet dengan sehat dan lebih baik," ujar Annika Small, Direktur dari Nominet Trust.
Small mengatakan bahwa penelitan Nominet Trust dilakukan agar bisa menyediakan ke masyarakat sumber jelas yang bisa membantu mereka berselancar aman di internet.
"Saya ingin melihat debat di antara para pembuat kebijakan, mengenai efektivitas dalam penggunakan teknologi interaktif pada otak dan perilaku anak muda, tanpa harus dicemaskan oleh orang tua mereka," pungkas Small.

Studi: Perempuan TomboyLebih Berpeluang Jadi Lesbian

Perempuan dengan dandanan maupun perilaku tomboy kerap diduga sebagai lesbian. Meski tidak sepenuhnyabenar, namun tim ilmuwan dari Queen Mary University di London mengklaim bahwa perempuan tomboy memang memiliki peluang lebih besar menjadi seorang lesbian.
Para ilmuwan ini berpendapat anak-anak yang menjadi lesbian atau gay di masa remaja maupun dewasanya cenderung dikarenakan saat kecil mereka berbeda dari ekspektasi gender masing-masing. Misalnya, laki-laki yangsering dikaitkan dengan kegiatan 'kasar' namun ternyatalebih sering melakukan kegiatan yang feminin, dan sebaliknya. Hal ini disebut sebagai ketidakcocokan gender.
Menurut penelitian, 50 hingga 80 persen pria yang memiliki latar belakang seperti itu ternyata menjadi gay. Sementara itu, terdapat sepertiga wanita dengan latar belakang serupa yang akhirnya tumbuh menjadi lesbian.
Kini, duo dokter Andrea Burri dan Qazi Rahman meyakini bahwa, bagi wanita, gen cukup berpengaruh terhadap ketidakcocokan gender dan orientasi seksual mereka. Demikian dilansir Daily Mail , Selasa (12/7/2011).
Keduanya mengamati 4.000 pasang kembar perempuan danmenanyakan detil tentang latar belakang serta ketertarikan seksual mereka. Dari pengamatan itu, mereka berhasil menarik kesimpulan bahwa genetika turut mempengaruhi orientasi seksual seorang wanita hingga 25 persen serta ketidakcocokan gender (31 persen).
"Kami menemukan adanya keterkaitan antara kondisi mental serta bagaimana orientasi seksual seseorang berkembang. Satu pemikiran yang kami miliki terkait hubungan ini dikarenakan keduanya tumbuh atas pengaruh gen dan hormon seks," jelas Dr Rahman.
"Selain itu, menurut kami faktor lingkungan dan genetika mendorong mekanisme lain seperti terpaan terhadap hormon seks saat masih beradadi dalam rahim, hingga perbedaan dalam ketidakcocokan gender," tutupnya.

Anak Perokok Pasif Miliki Masalah Perilaku

Peneliti di Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa anak yang selalu menghirup asap rokok di rumah,mungkin lebih cenderung punya masalah dalam belajar dan berperilaku.
Sebanyak 6 persen dari 55ribu anak yang berada di AS dengan rentan usia 12 tahun, berada pada lingkungan perokok atau hidup berdampingan dengan perokok. Anak-anak tersebut lebih cenderung memiliki gangguan pada perkembangannya dan cenderung hiperaktif dibandingkan mereka yang tinggal di lingkungan bebas asap rokok.
"Bahkan setelah memperhitungkan beberapa penjelasan yang mungkin terjadi, asap masih memiliki pengaruh yang dapat menyebabkan risiko tinggi terhadap masalah perilaku anak,"ungkap Hillel Alpert, di Harvard School of Public Health,yang merupakan salah satu peneliti.
Meski temuan ini tidak membuktikan bahwa rumah penuh asap adalah hal yang melulu harus disalahkan, tapi ada faktor lain yang tidak terihat dalam penelitian ini. Hal ini dapat memberikan orang tuaalasan agar menjaga rumah mereka menjadi rumah bebas asap rokok.
Para ahli kesehatan di seluruh negara merekomendasikan bahwa anak-anak harus dilindungi dari bahaya asap rokok karena alasan kesehatan.Asap rokok dapat meningkatkanrisiko infeksi pernapasan, asma akut dan sidrome kematian bayimendadak.
"Pesan utama bagi para orang tua ialah untuk melindungi anak mereka dari bahaya asap rokok",tambah Alpert, seperti dikutip Straits Times , Kamis (14/7/2011).
Salah satu faktor lain yang harus dipertimbangkan juga adalah bahwa anak-anak yangterkena asap rokok sering dikaitkan dengan peningkatan risiko masalah belajar dan perilaku. Ini juga terkait dengan latar belakang orang tua perokok yang juga memiliki masalah belajar dan perilaku, dibanding orang tua yang tidak merokok.