Rabu, 19 Oktober 2011

Belajar Main Musik Jaga Fungsi Otak

Mempelajari alat musik di masa kecil bukan saja menjadikan seorang anak mahirbermain instrumen, tapi juga berpotensi menjaga fungsi otak berpuluh-puluh tahun kemudian.
Kendati tidak lagi memainkan instrumen musik itu saat dewasa, namun pelajaran musikyang telah diterima akan membantu sang anak menjaga ketajaman otak di masa tua. Ilmuwan menemukan bahwa pensiunan yang pernah mempelajari piano, flute, klarinetatau alat musik lain memiliki hasiltes intelejensi lebih baik ketimbang mereka yang tidak pernah belajar.
"Aktivitas musikal dalam kehidupan seseorang bisa menjadi latihan kognitif yang membuat otak anda lebih sehat dan lebih mampu mengakomodasi tantangan di masa tua," jelas Dr Brenda Hanna-Pladdy dari University of Kansas Medical Center sebagaimana dikutip Telegraph , Senin (25/4/2011).
"Karena mempelajari alat musik harus diikuti dengan latihan selama bertahun-tahun, aktivitas itu bisa menciptakan koneksi alternatif yang bisa mengkompensasi penurunan tingkat kognitif di saat kita beranjak tua," lanjutnya.
Studi yang dipublikasikan oleh American Psycological Association mengamati 70 partisipan berusia 60 hingga 83tahun dengan kondisi kesehatanbaik. Mereka kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan pengalaman musikal mereka.
Hasilnya, mereka yang memiliki pengalaman musik mengerjakantes kognitif lebih baik ketimbangmereka yang belum pernah mempelajari instrumen ataupun membaca not balok.

Punya Kenangan Menyakitkan? Hapus Saja!

Sejumlah ilmuwan dari University of California mengklaim telah menemukan cara untuk menghapus, atau setidaknya mengurangi, kenangan menyakitkan seseorang dari otak.
Tim peneliti yang dipimpin oleh David Glanzman kabarnya telahmenemukan hubungan antara sebuah protein yang disebut PKM dengan kemampuan manusia mengingat kembali kejadian-kejadian tidak menyenangkan. Meski begitu, dia berkeras, hal ini belum bisa terwujud dalam waktu dekat.
"Di masa mendatang, saya rasakami bisa mengubah kenangan seseorang untuk mengurangi trauma dari otak," jelas Glanzman seperti dikutip Daily Mail , Selasa (3/5/2011).
"Tidak dalam waktu dekat, tapi saya pikir nantinya kami bisa masuk ke dalam otak seseorang, mengidentifikasi lokasi pengalaman traumatis untuk kemudian menguranginya,"imbuh Glanzman.
Glanzman, yang merupakan seorang ahli syaraf, beserta timnya disinyalir telah mengurangi ingatan jangka panjang pada sebuah siput lautyang dikenal sebagai Aplysia juga pada syaraf yang diletakkan di cawan patri. Mereka menemukan bahwa sensasi untuk ingatan jangka panjang siput laut bisa dihapus dengan menghalangi aktivitas PKM, yaitu protein yang dihubungkan dengan memori.
Tim peneliti berhasil menghapus ingatan jangka panjang pada siput laut maupun pada sirkuit di cawan patri. Mereka adalah kelompok ilmuwan pertama yangbisa menunjukkan bahwa ingatan jangka panjang bisa dihapus pada hubungan antara dua syaraf.
Hasil penemuan ini juga bisa membantu menyembuhkan pecandu obat bius, di mana memori memiliki peran penting, maupun penyakit Alzheimer serta penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan ingatan jangka panjang.

Populasi Dunia Mencapai 10,1 Miliar di 2100

Jumlah populasi dunia diperkirakan bakal mencapai 9,3 miliar pada 2050 dan 10,1 miliar pada 2100 mendatang. Demikian analisa ahli populasi PBB yang dilansir Straits Times , Rabu (4/5/2011).
Berdasarkan laporan PBB tentang tren dunia yang dirilis Selasa waktu setempat, populasi global disinyalir akan tumbuh menjadi 6,9 miliar pada 1 Juli nanti. Bahkan, 31 Oktober mendatang, angka itu akan kembali tumbuh menjadi 7 miliar.
Sebagian besar pertumbuhan populasi terjadi di negara-negara dengan tingkat kesuburan tertinggi, terutama diwilayah sub-Sahara Afrika.
Hania Zlotnik selaku Direktur Divisi Populasi PBB mengatakan bahwa analisa ini tergantung pada perkiraan tingkat kesuburan maupun beberapa faktor lain seperti kemajuan dunia kedokteran yang membuat seseorang bisa hidup lebih lama atau semakin banyakkeluarga yang memilih memiliki anak lebih sedikit.
"Dunia tidak runtuh dengan pertambahan begitu banyak orang. Tapi kebanyakan dari mereka berada di negara-negara paling miskin," papar Zlotnik.
"Jika mereka tidak mencapai tingkat kesuburan yang lebih rendah, kami memperkirakan mereka akan mendapat masalah serius," lanjutnya.
Direktur eksekutif UN Population Fund Dr Babatunde Osotimehin menambahkan, "Adanya 7 miliar populasi di dunia ini merupakan sebuah tantangan sekaligus peluang. Secara keseluruhan, orang-orang hidup lebih lama dan menjalani kehidupan lebih sehat serta memiliki keluarga lebih kecil."
"Tapi untuk memastikan kesejahteraan masyarakat saatini, begitu juga generasi yang akan datang, diperlukan pemikiran-pemikiran baru sertakerjasama dari seluruh pihak," tutup Osotimehin.

Tidur 7 Jam Jaga Otak Tetap Tajam

Jangan remehkan waktu tidur di malam hari. Berdasarkan studi dari ilmuwan di University College London, kebiasaan tidur selama 7 jam bisa membantu mempertahankan ketajaman otak di masa tua.
Meski begitu, bukan berarti anda bisa tidur sepuas hati. Pasalnya, waktu tidur yang terlalu lama bisa menambah usia otak hingga tujuh tahun. Akibat yang sama juga dirasakan jika anda memiliki waktu tidur terlalu pendek.
Ketua tim peneliti Dr Jane Ferrie menjelaskan penurunan fungsi otak ini sama seperti halnya seperti bertambah tua empat hingga empat tahun.
"Lamanya waktu tidur biasanya berkurang seiring pertambahan usia, demikian juga fungsi kognitif otak. Jadi kami ingin melihat apakah terdapat hubungan antara perubahan pola tidur ini," jelas Ferrie kepada Telegraph , Senin (9/5/2011).
Pada uji coba yang dilakukan Ferrie dan timnya, ditemukan bahwa orang dewasa dengan waktu tidur kurang dari enam jam dalam kurun lima tahun mengalami penurunan skor dalam tes logika dan kosakata. Mereka juga menemukan individu yang tidur lebih dari 8 jam sehari menunjukkan sinyal penurunan fungsi kognitif.
Ferrie dan timnya menemukan bahwa wanita yang tidur tujuh jam sehari memiliki skor tertinggipada tes kognitif, sebagaimana pria dengan waktu tidur 6 hingga 8 jam.
"Kami terkejut ketika menemukan orang-orang dengan durasi tidur lebih lama ternyata memiliki skor yang lebihrendah untuk fungsi kognitif, kecuali dalam hal ingatan," lanjutnya.
"Menurut kami, hal ini ada hubungannya dengan fragmentasi tidur. Artinya, meskipun seseorang tidur cukuplama, belum tentu tidur mereka 'berkualitas'. Kami menghitung perubahan tidur ini membuat fungsi kognitif otak berkurang, sama seperti seseorang yang bertambah tua empat hingga tujuh tahun," papar Ferrie lagi.
Peneliti menggunakan data dari survei jangka panjang terkait kesehatan publik, yang diketahuisebagai studi Whitehall II dan diisi oleh sekira 5.431 partisipan berusia 35 hingga 55 tahun. Mereka diminta untuk menyelesaikan enam tes kognitifyang mencakup uji logika, kosakata, kefasihan berbicara serta ingatan.

80% Orang Tua Cemas Anaknya Kecanduan Facebook

Sebuah penelitian terbaru dari Nominet Trust menemukan bahwa mayoritas orang tua takut anak mereka kecanduan situs jejaring sosial seperti Facebook.
Seperti yang dikutip dari CBR , Kamis (7/7/2011), penelitian tersebut juga menemukan bahwa satu dari 12 orang memiliki ketergantungan akan internet. Selain itu, penelitian tersebut juga menemukan bahwa kecanduan internet dapat menyebabkan depresi, kemarahan dan tensi tinggi, ketika mereka tidak memiliki akses internet.
Empat dari lima orang tua takut kalau anak mereka akan kecanduan Facebook, sementara satu dari tiga orang tua berpikir kalau Facebook 'mencuci otak' anak mereka.
Selain itu, rusaknya penglihatan mata juga terlihat pada anak-anak yang menggunakaninternet lebih dari tiga jam dalam satu hari.
"Tapi Nominet Trust percaya kalau internet juga menjadi sumber kebaikan. Kami juga mendanai proyek agar masyarakat bisa berinternet dengan sehat dan lebih baik," ujar Annika Small, Direktur dari Nominet Trust.
Small mengatakan bahwa penelitan Nominet Trust dilakukan agar bisa menyediakan ke masyarakat sumber jelas yang bisa membantu mereka berselancar aman di internet.
"Saya ingin melihat debat di antara para pembuat kebijakan, mengenai efektivitas dalam penggunakan teknologi interaktif pada otak dan perilaku anak muda, tanpa harus dicemaskan oleh orang tua mereka," pungkas Small.

Studi: Perempuan TomboyLebih Berpeluang Jadi Lesbian

Perempuan dengan dandanan maupun perilaku tomboy kerap diduga sebagai lesbian. Meski tidak sepenuhnyabenar, namun tim ilmuwan dari Queen Mary University di London mengklaim bahwa perempuan tomboy memang memiliki peluang lebih besar menjadi seorang lesbian.
Para ilmuwan ini berpendapat anak-anak yang menjadi lesbian atau gay di masa remaja maupun dewasanya cenderung dikarenakan saat kecil mereka berbeda dari ekspektasi gender masing-masing. Misalnya, laki-laki yangsering dikaitkan dengan kegiatan 'kasar' namun ternyatalebih sering melakukan kegiatan yang feminin, dan sebaliknya. Hal ini disebut sebagai ketidakcocokan gender.
Menurut penelitian, 50 hingga 80 persen pria yang memiliki latar belakang seperti itu ternyata menjadi gay. Sementara itu, terdapat sepertiga wanita dengan latar belakang serupa yang akhirnya tumbuh menjadi lesbian.
Kini, duo dokter Andrea Burri dan Qazi Rahman meyakini bahwa, bagi wanita, gen cukup berpengaruh terhadap ketidakcocokan gender dan orientasi seksual mereka. Demikian dilansir Daily Mail , Selasa (12/7/2011).
Keduanya mengamati 4.000 pasang kembar perempuan danmenanyakan detil tentang latar belakang serta ketertarikan seksual mereka. Dari pengamatan itu, mereka berhasil menarik kesimpulan bahwa genetika turut mempengaruhi orientasi seksual seorang wanita hingga 25 persen serta ketidakcocokan gender (31 persen).
"Kami menemukan adanya keterkaitan antara kondisi mental serta bagaimana orientasi seksual seseorang berkembang. Satu pemikiran yang kami miliki terkait hubungan ini dikarenakan keduanya tumbuh atas pengaruh gen dan hormon seks," jelas Dr Rahman.
"Selain itu, menurut kami faktor lingkungan dan genetika mendorong mekanisme lain seperti terpaan terhadap hormon seks saat masih beradadi dalam rahim, hingga perbedaan dalam ketidakcocokan gender," tutupnya.

Anak Perokok Pasif Miliki Masalah Perilaku

Peneliti di Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa anak yang selalu menghirup asap rokok di rumah,mungkin lebih cenderung punya masalah dalam belajar dan berperilaku.
Sebanyak 6 persen dari 55ribu anak yang berada di AS dengan rentan usia 12 tahun, berada pada lingkungan perokok atau hidup berdampingan dengan perokok. Anak-anak tersebut lebih cenderung memiliki gangguan pada perkembangannya dan cenderung hiperaktif dibandingkan mereka yang tinggal di lingkungan bebas asap rokok.
"Bahkan setelah memperhitungkan beberapa penjelasan yang mungkin terjadi, asap masih memiliki pengaruh yang dapat menyebabkan risiko tinggi terhadap masalah perilaku anak,"ungkap Hillel Alpert, di Harvard School of Public Health,yang merupakan salah satu peneliti.
Meski temuan ini tidak membuktikan bahwa rumah penuh asap adalah hal yang melulu harus disalahkan, tapi ada faktor lain yang tidak terihat dalam penelitian ini. Hal ini dapat memberikan orang tuaalasan agar menjaga rumah mereka menjadi rumah bebas asap rokok.
Para ahli kesehatan di seluruh negara merekomendasikan bahwa anak-anak harus dilindungi dari bahaya asap rokok karena alasan kesehatan.Asap rokok dapat meningkatkanrisiko infeksi pernapasan, asma akut dan sidrome kematian bayimendadak.
"Pesan utama bagi para orang tua ialah untuk melindungi anak mereka dari bahaya asap rokok",tambah Alpert, seperti dikutip Straits Times , Kamis (14/7/2011).
Salah satu faktor lain yang harus dipertimbangkan juga adalah bahwa anak-anak yangterkena asap rokok sering dikaitkan dengan peningkatan risiko masalah belajar dan perilaku. Ini juga terkait dengan latar belakang orang tua perokok yang juga memiliki masalah belajar dan perilaku, dibanding orang tua yang tidak merokok.

Kenapa Orang Kaya Sombong?

Orang yang mempunyai kekayaan lebih selalu mempunyai stigma sebagai orang kaya yang sombong. Walaupun tidak bisa disamaratakan, dari sebuah survei menyebutkan bahwa kebanyakan orang kaya adalahtipe orang yang sombongdan tidak berempati.
Menurut psikolog dan ilmuwan social Dacher Keltner dalam studinya menyebutkan, kebanyakan orang kaya terobsesi pada dirinya sendiri dan selalu berpikir untuk memperkaya dirinya sendiri. Sehingga ini yang menyebabkanorang yang banyak hartanya tersebut kurang berempati pada lingkungan sekitarnya.
"Ada yang menarik dari studi ini,karena kebanyakan dari orang kaya mempunyai ideologi tertarik pada diri sendiri dan cenderung berpikir hanya orangkaya bisa membantu orang lain,"terang Keltner, seperti yang dilansir melalui DailyMail , Selasa (16/8/2011).
Dalam melakukan studinya, Keltner sendiri telah melakukan beberapa pengujian dalam bentuk wawancara dan pengamatan, seperti mempelajari pengukuran empati,perilaku sosial dan kisah sehari-harinya.
Ditambahkan olehnya, kekayaan, pendidikan dan gengsi yang lebih tinggi membuat hidup membuat mereka bebas untuk hanya mengkhawatirkan diri mereka sendiri. Bahkan untuk menguatkan studinya tersebut, Keltner merekam video beragampercakapan orang.
Di video tersebut ditunjukkan pada orang kaya, mereka cenderung mudah terganggu, memeriksa ponsel, dan menghindari kontak mata. Sedangkan mereka yang berpenghasilan lebih rendah lebih sering melakukan kontak mata pada orang yang mereka ajak bicara dan menunjukkan sinyal tertarik diajak berbicara, termasuk menganggukkan kepala.

Kecanduan Internet Dapat Merusak Otak Remaja

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa penggunaan internet secara berlebihan dapat menyebabkan kerusakan otak pada remaja.
Para ilmuwan menemukan tanda-tanda terhentinya pertumbuhan zat abu-abu di otak pengguna internet berlebih yang semakin lama dapat memburuk dari waktu ke waktu.Hal ini dapat mempengaruhi konsentrasi dan memori, serta kemampuan mereka untuk membuat keputusan dan tujuan yang akan mereka tetapkan. Hal tersebut juga bisa menyebabkan perilaku yang 'tidak sopan'.
Peneliti mengambil scan otak Magnetic Resonance Imaging (MRI) dari 18 mahasiswa berusia19 tahun yang menghabiskan 8 sampai 13 jam sehari bermain game online dan melakukannya secara terus menerus selama enam hari dalam seminggu. Para siswa diklasifikasikan sebagai pecandu internet setelah menjawab 8 pertanyaan.
Pertanyaan meliputi, apakah mereka mencoba untuk berhenti menggunakan komputer dan apakah mereka telah berbohongpada anggota keluarga merekatentang jumlah waktu yang mereka habiskan untuk bermain game online. Kemudian, para peneliti membandingkan mereka dengan sebuah kelompok kontroldari 18 siswa yang hanya menghabiskan waktu kurang dari dua jam sehari di internet.
Satu set gambar MRI difokuskan pada materi abu-abu di permukaan keriput otak atau korteks, di mana pengolahan memori, emosi, ucapan, penglihatan, pendengaran dan kontrol motor terjadi. Membandingkan materi abu-abu antara kedua kelompok tersebut dapat menunjukkan terhentinya pertumbuhan di daerah kecil pada beberapa dari semua otak pecandu game online.
Hasil scan menunjukan semakin lama kecanduan internet akan menimbulkan kerusakan pada otak lebih serius. "Ini merupakankelainan struktural yang mungkin dikaitkan dengan gangguan fungsional dalam kontrol kognitif. Hasil penelitian kami menyarankan jangka panjang kecanduan internet akan mengakibatkan perubahanstruktural otak,"ungkap peneliti, seperti dikutip Daily Mail , Selasa(19/7/2011).
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLoS ONE, dilakukan oleh ahli saraf dan ahli radiologi di universitas dan rumah sakit di China, di mana sebanyak 24 juta pemuda diperkirakan kecanduan internet.
"Ini menunjukkan ada hubungan yang sangat jelas antara jumlah anak muda yang telah kecanduan internet dan terjadi perubahan di otak mereka. Kita perlu melakukan eksperimen lebih banyak dan kita perlu menginvestasikan lebih banyak uang dalam penelitian dan studi seperti ini."cetus Baroness Greenfield, profesor farmakologi di Universitas Oxford.

Kecanduan Internet Dapat Merusak Otak Remaja

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa penggunaan internet secara berlebihan dapat menyebabkan kerusakan otak pada remaja.
Para ilmuwan menemukan tanda-tanda terhentinya pertumbuhan zat abu-abu di otak pengguna internet berlebih yang semakin lama dapat memburuk dari waktu ke waktu.Hal ini dapat mempengaruhi konsentrasi dan memori, serta kemampuan mereka untuk membuat keputusan dan tujuan yang akan mereka tetapkan. Hal tersebut juga bisa menyebabkan perilaku yang 'tidak sopan'.
Peneliti mengambil scan otak Magnetic Resonance Imaging (MRI) dari 18 mahasiswa berusia19 tahun yang menghabiskan 8 sampai 13 jam sehari bermain game online dan melakukannya secara terus menerus selama enam hari dalam seminggu. Para siswa diklasifikasikan sebagai pecandu internet setelah menjawab 8 pertanyaan.
Pertanyaan meliputi, apakah mereka mencoba untuk berhenti menggunakan komputer dan apakah mereka telah berbohongpada anggota keluarga merekatentang jumlah waktu yang mereka habiskan untuk bermain game online. Kemudian, para peneliti membandingkan mereka dengan sebuah kelompok kontroldari 18 siswa yang hanya menghabiskan waktu kurang dari dua jam sehari di internet.
Satu set gambar MRI difokuskan pada materi abu-abu di permukaan keriput otak atau korteks, di mana pengolahan memori, emosi, ucapan, penglihatan, pendengaran dan kontrol motor terjadi. Membandingkan materi abu-abu antara kedua kelompok tersebut dapat menunjukkan terhentinya pertumbuhan di daerah kecil pada beberapa dari semua otak pecandu game online.
Hasil scan menunjukan semakin lama kecanduan internet akan menimbulkan kerusakan pada otak lebih serius. "Ini merupakankelainan struktural yang mungkin dikaitkan dengan gangguan fungsional dalam kontrol kognitif. Hasil penelitian kami menyarankan jangka panjang kecanduan internet akan mengakibatkan perubahanstruktural otak,"ungkap peneliti, seperti dikutip Daily Mail , Selasa(19/7/2011).
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLoS ONE, dilakukan oleh ahli saraf dan ahli radiologi di universitas dan rumah sakit di China, di mana sebanyak 24 juta pemuda diperkirakan kecanduan internet.
"Ini menunjukkan ada hubungan yang sangat jelas antara jumlah anak muda yang telah kecanduan internet dan terjadi perubahan di otak mereka. Kita perlu melakukan eksperimen lebih banyak dan kita perlu menginvestasikan lebih banyak uang dalam penelitian dan studi seperti ini."cetus Baroness Greenfield, profesor farmakologi di Universitas Oxford.

Jejaring Sosial Mampu Besarkan Ukuran Otak Manusia

Orang yang menggunakan layanan jejaring sosial dan mempunyai banyak teman di dalamnya, mungkin akan memiliki ukuran otak yang besar, demikian ungkap sebuah penelitian terbaru.
Seperti yang dikutip dari Reuters , Rabu (19/10/2011), para ilmuwan telah menemukan hubungan langsung antara jumlah teman di Facebook dengan ukuran di beberapa bagian otak. Hal ini meningkatkan kemungkinan bahwa menggunakan situs jejaring sosial bisa merubah otak manusia.
Beberapa wilayah fungsi otak yang terpengaruh penggunaan jejaring sosial adalah, memori, respon emosi dan interaksi sosial.
Namun para ilmuwan belum bisamemastikan sepenuhnya, apakah dengan memiliki banyak teman di jejaring sosial mampu membuat beberapa bagian dariotak membesar, atau memang orang-orang berotak besar memang kemampuan interaksi sosialnya lebih baik.
"Yang menjadi pertanyaan menarik di sini adalah bagaimana struktur otak selalu berubah-rubah," ujar Ryota Kanai dari University College (UCL), salah satu ilmuwan yang terlibat di penelitian ini.
"Hal inilah yang akan membantu kita dalam menjawab apakah internet mampu mengubah otak manusia," pungkasnya.

Orang Malas Karena Tidak Punya Gen 'Atletik'

LONDON - Sebuah studi terbaru menyimpulkan bahwa jika seseorang itu malas dikarenakan ia telah kehilangan atau tidak punya gen 'atlit'.
Seperti yang dikutip dari Metro , Selasa (6/9/2011), mungkin setelah ini para orang malas punya alasan mengapa mereka mempunyai sifat buruk itu. Hal ini dikarenakan mereka telah kehilangan gen yang membuat rajin berolahraga.
Para peneliti di McMaster University, Ontario, Kanada, meneliti tikus dan memindahkan dua jenis gen pada otot merekadan menemukan bahwa setelah dipindahkan tikus tersebut tidakbisa melakukan aktivitas sebanyak tikus lainnya.
Gen-gen yang diambil oleh para ilmuwan tersebut mengendalikan protein kinase yang memiliki adenosine monophosphate (AMP) aktif, sebuah enzim yang bekerja jika seseorang sedang berolahraga.
"Tikus-tikus yang sudah diambilgennya tersebut mungkin nampak mirip dengan lainnya, tapi kemudian kita bakal tahu siapa yang telah diambil gennya," ujar Dr. Gregory Steinberg dari McMaster University.
Dr Steinberg mengatakan bahwa penemuan ini dapat mengarahkan ke bagaimana merawat seseorang yang malasberolahraga, memiliki berat badan berlebih dan masalah pernapasan.
"Ketika Anda menjadi obsesitas, maka hal tersebut akan menyusahkan apabila ingin memulai latihan olah raga. Tapi pesannya ialah jangan sampai anda sampai ke tahap itu, namun apabila sudah terlambat,masih ada yang bisa dilakukan, karena hal itu bukanlah sebuah kelainan gen," papar Steinberg.

Ilmuwan Kembangkan Chip Pemantau Virus HIV

CALIFORNIA - Sebuah chip microfluida sedang dikembangkan oleh ilmuwan untuk mengukur efektivitas pengobatan pasien di berbagi negara yang miskin.
Mengukur konsentrasi virus HIV (viral load) dalam aliran darah, adalah salah satu teknik yang digunakan dokter untuk memantau efektivitas pengobatan HIV.
Sebuah lonjakan viral load dapat menjadi peringatan kegagalan obat atau resistensi obat, serta kemungkinan agar dapat digunakan sebagai acuanpemberian obat yang berbeda kepada pasien. Namun di negara yang miskin sumber daya, pemantauan tersebut harus menggunakan perangkat yang tergolong mahal. Demikian seperti dikutip Technology Review , Selasa (18/10/2011).
Sebuah chip microfluida baru yang dirancang oleh laboratorium dari Rustem Ismagilov di Caltech, menunjukan kemungkinan untuk memantau viral load HIV dan infeksi virus lain yang lebih mudah dan murah, serta teknik ini juga dapat berguna untuk jenis lain, seperti tes genetik.
Sampel pertama dalam penggunaan microfluida ialah membagi di antara banyak bagian kecil molekul, sehingga setiap bagian cenderung hanya memiliki satu molekul. Ketika molekul tersebut kemudian diperkuat, hasilnya adalah 'ya' atau 'tidak'.
"Hambatan metode tersebut datang ketika pasien memerlukan pengukuran denganrentang dinamis yang besar," kata Ismagilov.
Viral load HIV, misalnya, dapat berkisar dari 50 sampai satu juta molekul per mililiter. Sebuahtes untuk mengukur itu harus mampu menangani sejumlah besar molekul, namun cukup sensitif untuk menghitung molekul yang langka.
Biasanya untuk mencapai kepekaan tersebut membutuhkan bagian sampel molekul yang menipiskan dan menyebarkannya di atas bagianmolekul yang lebih besar dalam rangka untuk memastikan bahwa tidak ada lebih dari satumolekul di setiap bagiannya.
Ismagilov mengatakan jumlah besar dalam tiap bagian molekulrumit untuk di analisis. Pada saat yang sama, sampel tidak dapat menyebar begitu tipis sehingga molekul langka akan tertinggal.
Ismagilov dan anggota lab datang dengan sebuah trik untuk menangani dilema ini. Mereka membagi sampel menjadi serangkaian yang berbeda ukuran, kemudian disesuaikan untuk mendeteksi molekul pada konsentrasi yang berbeda, yang dapat dihitung bersama-sama.
"Setiap volume, sensitif terhadap berbagai konsentrasi tertentu. Volume secara bersamaan memberikan informasi lebih baik daripada volume satu individu," simpulnya.